(: Welcome to Official Iladiena Zulfa Blog :)

0

PENDEKATAN ANTROPOLOGI TERHADAP AGAMA

Posted by zulfailadiena.blogspot.com on 00.00 in ,
Oleh: Tasman, M.Si.

Perhatian antropologi terhadap Religi dan Kepercayaan
Agama resmi yang diakui oleh Pancasila ada lima; Islam Protestan, Katholik Roma, Hindu Dharma, Budha, Keprcayaan. Namun tak dapat diabaikan juga dalam semua agama yang ada tentu ada sebagian yang tidak mengikuti dengan tepat ajaran yang resmi. Sebagian besar pemeluk Islam di Jawa tidak sepenuhnya menjalankan agamanya sesuai dengan syariat  agama Islam. Mereka secara umum dinakamakan “Islam abangan”, atau penganut “agama Jawi”, sementara penganut agama Islam yang asli disebut “Islam santri”. Ilmu yang mempelajari agama murni disebut ilmu agama. Sementara antropologi dan etnografi mempelajari dan mendeskripsikan praktik religinya.
Walaupun sejak awal disadari bahwa kajian tentang agama akan mengalami kesulitan karena meneliti sesuatu yang menyangkut kepercayaan (beliefs) yang ukuran kebenarannya terletak pada keyakinan
Evans-Pritchard, salah seorang pionir dalam tradisi antropologi sosial di Inggris, mengatakan bahwa dilema kajian tentang agama adalah bahwa pemahaman realitas agama tidak akan sepenuhnya dapat difahami kecuali oleh orang yang mengamalkan agama itu sendiri.
Kesulitan mempelajari agama dengan pendekatan budaya, dengan mempelajari wacana, pemahaman dan tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan ajaran agama, dirasakan juga oleh mereka yang beragama.
Kesulitan itu terjadi karena ketakutan untuk membicarakan masalah agama yang sakral dan bahkan mungkin tabu untuk dipelajari. Persoalan itu ditambah lagi dengan keyakinan bahwa agama adalah bukan hasil rekayasa intelektual manusia, tetapi berasal dari wahyu suci Tuhan. Sehingga realitas keagamaan diyakini sebagai sebuah "takdir sosial" yang tak perlu lagi dipahami.
Namun sesungguhnya harus disadari bahwa tidak dapat dielakkan agama tanpa pengaruh budaya-ulah pikir manusia-tidak akan dapat berkembang meluas ke seluruh manusia. Bukankah penyebaran agama sangat terkait dengan usaha manusia untuk menyebarkannya ke wilayah-wilayah lain. Dan bukankah pula usaha-usaha manusia, jika dalam Islam bisa dilihat peran para sahabat, menerjemahkan dan mengkonstruksi ajaran agama ke dalam suatu kerangka sistem yang dapat diikuti oleh manusia. Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fikih dan ilmu usul fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dan budayanya. Keberagaman sosial budaya yang ada di dunia ini mengakibatkan pada kompleksitas agama.
Sebagai fenomena universal yang kompleks, keberadaan agama dalam masyarakat telah mendorong lahirnya banyak kajian tentang agama. Kajian-kajian tentang agama berkembang bukannya karena agama ternyata tak dapat dipisahkan dari realitas sosial, tetapi ternyata realitas keagamaan berperan besar dalam perubahan sosial dan transformasi sosial.
Perlu juga ditandaskan bahwa sikap mempertanyakan kembali makna agama dan relevansinya dengan kehidupan sosial juga fenomena universal yang ada dimana-mana. Kajian-kajian agama baik dalam masyarakat primitif sampai pada masyarakat yang modern menunjukkan bahwa keberadaan agama selalu mengandung dua sisi yang berbarengan, yaitu kecenderungan transendensi dan sekularisasi.
Secara garis besar kajian agama dalam antropologi dapat dikategorikan ke dalam empat kerangka teoritis;
1.      Intellectualist,
2.      Structuralist,
3.      Functionalist dan
4.      Symbolist.

Tradisi kajian agama dalam antropologi diawali dengan mengkaji agama dari sudut pandang intelektualisme yang mencoba untuk melihat definisi agama dalam setiap masyarakat dan kemudian melihat perkembangan (religious development) dalam satu masyarakat.
Termasuk dalam tradisi adalah misalnya E.B. Taylor yang berupaya untuk mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya kekuatan supranatural. Walaupun definisi agama ini sangat minimalis, definis ini menunjukkan kecenderungan melakukan generalisasi realitas agama dari animisme sampai kepada agama monoteis..

E.B. Taylor : Teori Tentang Ruh.
E.B. Taylor berpendapat bahwa manusia percaya kepada suatu kekuatan yang dianggapnya lebih tinggi dari dirinya dan melakukan berbagai macam cara untuk mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi. Oleh karena itu: Manusia sadar akan adanya konsep ruh; Manusia mengakui adanya berbagai gejala yang tak dapat dijelaskan dengan aka;, Keinginan manusia untuk mengahadapi berbagai kisis yang senantiansa dialami manusia dalam daur hidupna;, Kejadian-kejadian luar biasa yang dialami manusia di alam sekelilingnya;Adanya getaran (emosi) berupa rasa kesatuan yang timbul dalam jiwa manusia sebagai warga dari masyarakat;Manusia menerima suatu firman Tuha. Teori tentang ruh yang disebabkan oleh dua hal; perbedaan yang tampak anatar benda yang hidup dan yang mati; Pengalaman bermimpi.

MIRCEA ELIADE DAN MAX MULLER
Menurut Mircea Eliade perkembangan agama menujukkan adanya gejala seperti bandul jam yang selalu bergerak dari satu ujung ke ujung yang lain. Demikian juga agama berkembang dari kecenderungan anismisme menuju monoteisme dan akan kembali ke animisme. Tetapi, berdasar pada ajaran yang terdapat dalam kitab suci, Max Muller berpandangan bahwa agama bermula dari monotheisme kemudian berkembang menjadi agama-agama yang banyak itu.
J,G. Frazer: Teori Batas Akal.
Frazer berpendapat bahwa manusia memecahkan masalah-masalah hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya, akan tetapi akal dan sistem pengetahuan mansia terbatas. Soal-soal hidup yang tak dapat dipecahkan dengan akal, dipecahkan dengan magic, atau ilmu gaib. Ilmu ghaib adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan menggunakan kekuatan-kekuatan hukum-hukum gaib yang ada di alam semesta. Sedangkan religi: segala sistem perbuatan untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri pada kehendak dan kekuasaan makhluk-makhluk halus (misalnya roh, dewa, dll.)

M. Crawley: Teori masa krisis dalam hidup manusia.
Crawley berpendapat bahwa selama hidupnya manusia mengalami masa krisis yang sangat ditakuti dalam hidupnya. Terutama ketika menghadapi bencana sakit, hamil, melahirkan dan maut, segala kepandaian, kekuasaan, dan harta benda yang dimilki tidak berdaya. Pada saat seperti ini manusia merasa perlu melakukan sesuatu untuk memperteguh imannya. Perbuatan-perbuatan inilah yang merupakan pangkal dari religi dan merupakan bentuk-bentuk tertua dari agama.

R.R. Marret : Teori Kekuatan Luar Biasa.
Marret berpandangan bahwa pangkal dari segala perilaku keagamaan ditimbulkan karena adanya perasaan tidak berdaya dalam menghadapi gejala-gejala luar biasa dalam kehidupan manusia.  Alam tempat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal oleh manusia dianggap sebagai tempat adanya kekuatanyang melebihi kekuatan manusia yang disebut kekuatan supernatural.

Teori Firman Tuhan:
Teori agama langit menganggap Agama turun dari titah Tuhan pada awal keberadaan manusia di bumi.

EMILE DURKHEIM: Strukturalis, Fungsionalis dan Simbolis
Ketiga teori, strukturalis, fungsionalis dan simbolis, sesungguhnya lahir dari Emile Durkheim. Buku Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life, telah mengilhami banyak orang dalam melihat agama. Lewat buku itu Durkheim ingin melihat agama dari bentuknya yang paling sederhana yang diimani oleh suku Aborigin di Asutralia sampai ke agama yang well-structured dan well-organised seperti yang dicerminkan dalam agama monoteis.

EMILE DURKHEIM
Durkheim menemukan bahwa aspek terpenting dalam pengertian agama adalah adanya distingsi antara yang sacred dan yang profan. Namun demikian ia tak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa yang sacred itu selalu bersifat spiritual. Dalam agama sederhana suku Aborigin Australia ditemukan bahwa penyembahan kepada yang sacred ternyata diberikan kepada hal-hal yang profan semisal Kanguru.

Pendekatan Strukturalisme
Di samping kritik terhadap pendekatan intelektualis itu, Durkheim juga mengungkapkan bahwa masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah totalitas yang diikat oleh hubungan sosial. Dalam pengertian ini maka society (masyarakat) bagi Durkheim adalah "struktur dari ikatan sosial yang dikuatkan dengan konsensus moral." Pandangan ini yang mengilhami para antropolog untuk menggunakan pendekatan struktural dalam memahami agama dalam masyarakat. Claude Levi-Strauss adalah satu murid Durkheim yang terus mengembangkan pendekatan strukturalisme, utamanya untuk mencari jawaban hubungan antara individu dan masyarakat. Bagi Levi-Strauss agama baik dalam bentuk mitos, magic adalah model bagi kerangka bertindak bagi individu dalam masyarakat. Jadi pandangan sosial Durkheim dikembangkan oleh Levi-Strauss kepada tidak saja secara hubungan sosial tetapi juga dalam ideologi dan pikiran sebagai struktur sosial.

 FUNGSIONALISME
Sementara itu pandangan Durkheim tentang fungsi dalam masyarakat sangat berpengaruh dalam tradisi antropologi sosial di Inggris. Pandangan Durkheim yang mengasumsikan bahwa masyarakat selalu dalam keadaan equilibrium dan saling terikat satu dengan yang lain, telah mendorong para antropolog untuk melihat fungsi agama dalam masyarakat yang seimbang tersebut. Fungsi psikologi agama, sebagai penguat dari ikatan moral masyarakat dan fungsi sosial agama sebagai penguat solidaritas manusia menjadi dasar dari perkembangan teori fungsionalisme.
Branislaw Malinowski mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah memberikan jawaban-jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan common sense-rasionalitas dan kemampuan menggunakan teknologi. Dalam setiap kali menyelesaikan persoalan-persoalannya, manusia menggunakan kemampuan rasionalitas dan penciptaan teknologi.
Ketika sebuah masyarakat traditional Suku Trobiand di daerah pesisir Papua Nugini menemukan bahwa ladangnya telah dirusak oleh babi hutan, maka dengan kemampuan rasionalitas dan penguasaan teknologinya masyarakat suku Trobiand membuat pagar agar babi tak dapat lagi masuk ke ladangnya. Namun ketika hendak berburu ikan di lautan, dimana gelombang lautan dan cuaca yang tidak dapat mereka kontrol dengan kemampuan rasionalitas dan teknologi, mereka menggunakan agama sebagai pemecahnya. Maka sebelum mereka berlayar, mereka melakukan ritual dengan sesaji sebagai sarana komunikasi dengan kekuatan spiritual untuk menyelesaikan masalah yang unpredictable.

SIMBOLISME
Teori simbolisme yang menjadi teori dominan pada dekade 70-an sebenarnya juga mengambil akarnya dari Durkheim, walaupun tidak secara eksplisit Durkheim membangun teori simbolisme. Pandangan Durkheim mengenai makna dan fungsi ritual dalam masyarakat sebagai suatu aktifitas untuk mengembalikan kesatuan masyarakat mengilhami para antropolog untuk menerapkan pandangan ritual sebagai simbol. Salah satu yang menggunakan teori tersebut adalah Victor Turner ketika ia melakukan kajian ritual (upacara keagamaan) di masyarakat Ndembu di Afrika. Turner melihat bahwa ritual adalah simbol yang dipakai oleh masyarakat Ndembu untuk menyampaikan konsep kebersamaan.

 Clifford Geertz: AGAMA
Pengertian Agama menurut Clifford Geertz:(1) Sebuah sistem simbol-simbol yang berlaku untuk (2) menetapkan suasana hati dan motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan (3) merumuskan konsep-konsep mengenai tatanan umum eksistensi dan (4) membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga (5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak realitas.



|
0

Ideologi dan Perannya Sebagai Sistem Budaya

Posted by zulfailadiena.blogspot.com on 23.59 in ,
Oleh: Tasman, M.Si.

Salah satu pertanyaan yang sangat menarik adalah apakah “common sense” sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan budaya sekelompok orang?
Apakah “common sense” sebagai suatu sistem budaya sudah dapat menggantikan fungsi sistem budaya lainnya seperti agama, kesenian, ilmu pengetahuan atau ideologi?
Kelemahan common sense”
Salah satu sistem budaya---selalu harus memeunhi fungsinya sebagai sistem/pengetahuan/pandangan dunia dan sistem nilai.
Pengetahuan yang diberikan “common sense” adalah pengetahuan yang dianggap given yang terdiri dari kepercayaan-kepercayaan yang tidak tercapai dan diorganisasikan dengan konsep-konsep informal.Sehingga seseorang yang memerlukan pengetahuan yang teruji, harus menggunakan peralatan lain yang tidak disediakan oleh “common sense”, seperti ilmu pengetahuan, agama, dan ideologi.
Sementara itu, dengan Ilmu pengetahuan seseorang dimungkinkan melakukan pengujian dan kritik terhadap pengetahuannya, dengan bantuan konsep-konsep formal yang terdapat dalam tiap disiplin ilmu pengetahuan
Agama mampu meberikan “mood” yang bertahan lama dan motivasi yang kuat. Dalam agama perbedaan antara konsepsi dan kenyataan menjadi tipis atau hilang, sehingga motif dan suasana yang timbul daripadanya terkesan sangat realistis

Ideologi
Seperangkat kepercayaan yang bersifat koheren dan komprehensif yang menguasai dan menetukan semua pertimbangan uUntuk memperjelas pengetian ideologi akan dibedakan melalui ide dengan kepercayaan. Ide berurusan dengan ada tidaknya realitas (fact or reality). Dengandemikian sifatnya rasional dan teoritis.
Kepercayaan ialah dorongan-dorongan yang muncul dari suatu realitas tertentu, disertai ikatan emosional yang kuat. Oleh karena itu, sekalipun suatu kepercayaan disusun dalam bentuk suatu teori, wataknya yang sebenarnya hanyalah teori yang semu, suatu parateori.

Karl Manheim Tentang Ideologi
Tiap pemikiran sosial politik tidak pernah merupakan suatu refleksi yang netral melainkan selalu berhubungan dengan situasi sosial sang pemikir sendiri, dan bahkan merupakan refleksi situasi tertentu. Dalam pengertian ini ide sosial politik selalu bersifat ideologis. Dalam arti ini ideologi adalah bayangan kabur yang menyelubungi sustu ide dan karena itu harus disingkirkan.
Dalam arti ini, ideologi mirip dengan suatu penipuan, dengan perbedaan bahwa seseorang yang menipu akan mengacaukan orang lain sambil menjaga agar pikirannya sendir tetap benar.
Sedangkan seseorang yang berfikir ideologis mengacaukan pikiran orang lain dan mengacaukan pikirannya sendiri.

Kecenderungan Ideologi
1.      Bersifat separatis karena selalu dengan tegas berusaha memisahkan ingroup (kita) dari outgroup (mereka).
2.      Bersifat alienatif kerena cenderung menimbulkan pandangan yang berlebih-lebihan—dan karena itu salah—tentang kenyataan ingroup dan outgroup.
3.      Bersifat doktriner karena cenderung mengklaim memiliki seluruh kebenaran politik dan menolak kompromi.
4.      Bersifat totalistis karena bertujuan mengatur dan menyusun seluruh tata masyarakat dan budaya menurut cita-citanya.
5.      Bersifat futuristis karena mengarahkan diri pada suatu titik masa depan yang bersifat utopis, di mana seluruh harapannya terpenuhi

Kenapa Ideologi Penting?
Clifford Geertz, kebutuhan akan ideologi terkait dengan teori kepentingan dan ketegangan. Dalam teori kepentingan merupakan Ideologi sebuah topeng atau senjata yang dipergunakan untuk mengejar keuntungan, khususnya kekuasaan.
Dalam teori ketegangan Ideologi adalah simptom atau obat untuk mengobati ketidaksimbangan sosio-psikologis, atau untuk menghindari kecemasan

 Teori Kepentingan
Teori kepentingan lahir dari asumsi sosiologis bahwa dalam tiap masyarakat ada kelompok-kelompok (kelas-kelas) dengan kepentingannya sendiri, di mana ide dan gagasan yang diajukan oleh tiap kelompok tersebut harus selalu dilihat dalam kaitan dengan kepentingan atau kepentingan kelasnya.
Sebaliknya, setiap gagasan—khususnya gagasan politik—harus diperlakukan sebagai alat atau senjata untuk mewujudkan kepentingan politik, dengan cara merebut kekuasaan dan menggunakannya untuk “memaksakan” terwujudnya masyarakat yang sesuai dengan cita-cita sosial-politiknya.
Kritik utama kepada teori ini ialah bahwa dia telah melakukan penyempitan luar biasa terhadap fungsi ideologi yang harus dipahami hanya sebagai alat untuk mewujudkan kepentingan kelompok atau kepentingan kelas.
Fungsi ideologi yakni medefinisikan (secara jelas atau kabur) kategori-kategori sosial, memperkuat (atau memperlemah) konsensus sosial, mengurangi (atau menambah) ketegangan sosial --- fungsi ini praktis diabaikan sama sekali dalam teori kepentingan tentang ideologi

Teori Ketegangan
Teori ketegangan tentang ideologi lahir dari asumsi tentang malintegrasi dalam masyarakat, bahwa tidak ada lembaga atau pranata sosial yang mampu berhasil mengatasi masalah yang muncul dan fungsi yang justru harus dilaksanakan oleh lembaga tersebut.
Masalah itu sebagian besar muncul dari berbagai tujuan lembaga sosial yang mengandung kepentingan yang dapat bertentangan satu sama lain; antara kemerdekaan dan tertib politik, antara stabilitas dan perubahan, antara efisiensi dan perikemanusiaan, antara presisi dan fleksibilitas, dan seterusnya.
Akibatnya, muncul pula “role expection” yang saling bertentangan atau satu sama lain, yang pada tingkat individual nampak dalam bentuk kegelisahan pribadi (personal insecurity), dan pada tingkat sosial muncul dalam bentuk kontradiksi sosial atau perkembangan-perkembangan yang konsisten satu sama lain.

Peranan Ideologi dalam Berhadapan Dengan Ketegangan
Ideologi dapat memainkan peranan katarsis, di mana ketegangan emosional dapat tersingkir dengan cara mencari kambing hitam sebagai penyebab timbulnya, dan sebab-sebab itu diperlihatkan dalam wujud musuh-musuh simbolik (kontra refolusioner, liberal, modal asing, kelompok ekstrim kiri atau kanan, dan sebagainya.
Ideologi dapat juga memainkan suatu pesan moral, dengan cara menyangkal samasekali (atau mengelabui) adanya ketegangan yang ada atau malah melegitimasikan ketegangan-ketegangan tersebut dengan nilai-nilai yang lebih tinggi.
Dalam peranan “solidarity making” suatu ideologi berperan mempersatukan suatu kelompok atau suatu kelas, dengan merelativisir perbedaan perbedaan yang muncul, dengan cara memberi suatu orientasi serta tujuan ideologis yang sama.
Dalam kasus Indonesia, Pancasila memainkan peran “solidarity making” yang luar biasa.  Namun demikian, ketegangan-ketegangan yang ada tidak selalu disingkirkan (atau ditekan) berdasarkan tujuan ideologis yang sama, melainkan dapat juga dihilangkan dengan mengungkapkannya secara terbuka, dan menyatakan berpihak dengannya.
Pada titik ini sebuah ideologi akan memainkan peranan pembela (advovatory role). Ketegangan kemudian dipertegas, dan mendapat perhatian publik dan karena itu tidak dapat lagi diabaikan terus menerus.
Dalam artian ini tanpa nasionalisme, kemedekaan dan nasib negara-negara Dunia Ketiga tidak akan secepat itu mendapat perhatian internasional, atau tanpa marxisme para buruh tidak akan mengalami perbaikan secepat yang kita alami sekarang

Perbandingan Pandangan Dunia
Ilmu pengetahuan berdiri di atas konsistensi intern berupa hubungan yang dapat disatukan secara logis antara berbagai pikiran yang menjadi unsur sebuah pemikiran, dan konsistensi extern berupa hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan secara empiris antara pikiran/pengetahuan dan kenyataan objektif yang diketahui. Asanya adalah keterujian, termasul menguji apakah “seeming” sama dengan “being”.
“Common sense” tidak berdiri di atas asas keterujian melainkan kegunaan praktis pengetahuan. Pengetahuan tidak diuju tetapi diterima begitu saja dengan akibat bahwa pengetahuan tersebut penuh dengan inkonsistensi, baik intern maupun exstern. Seeming dianggap sama dengan being.
Estetika Estetika tidak berurusan dengan being tetapi hanya bersibuk dengan penampakan dengan mengubah gejala kenyataan menjadi penampakan. Estetika sebetulnya mengubah seluruh being menjadi seeming.
Agama sebaliknya mengubah semua penampakan menjadi kenyataan, dan bahkan memberi pendasaran terhadap seluruh kenyataan dengan menunjuk adanya kenyataan terakhir (ultimate reality) yang menjadi sumber dan pembenaran semua kenyataan lainnya.

 Ideologi
Ideologi mempunyai kedudukan yang sangat khusus. Ideologi tidak banyak berurusan dengan penampakan dan kenyataan, melainkan mengubah perasaan menjadi makna, mentransfer formasi sentiment menjadi significance, feeling menjadi meening.
Dengan demikian, kalau dalam ilmu kita berurusan dengan kebenaran hipotetis, kalau dalam agama kita berurusan dengan kebenaran kategoris, kalau dalam seni kita berurusan dengan keindahan, kalau dalam “common sence” kita berurusan dengan kebenaran ad hoc dan pragmatis, maka dalam ideologi kita berurusan dengan keterlibatan, semangat, keberpihakan, dan “moral passion”



|
0

Pandangan Dunia

Posted by zulfailadiena.blogspot.com on 23.58 in ,
Oleh: Tasman, M.Si
Dosen Antropologi Agama, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Jakarta

Kebudayaan pada dasarnya merupakan sistem makna dan sistem nilai yang dikomunikasikan melalui simbol-simbol. Sistem makna dan sistem nilai terdiri dalam empat tingkat, yakni
1.      Common Sense
2.      Ilmu Pengetahuan
3.      Estetika
4.      Agama

Common Sense
Common sense adalah suatu realisme naif, di mana dunia yang dialami dan diisinya diterima sebagaimana tampaknya. Tidak ada distingsi yang dibuat antara gejala yang menampak (seeming) dengan wujud sebenarnya dari gejala-gejala tersebut (being). Realitas diandaikan benar (given). Dalam berhadapan dengan dunia hidupnya orang-orang berdasarkan “common sense” ini dibimbing oleh motif pragmatis. Dunia ditanggapi sejauh memenuhi kebu-tuhannya sehari-hari. Tanggapan terhadap dunia dan lingkungan hidupnya dilakukan melalui semacam analisis yang berdasarkan konsep-konsep informal.

Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan bertolak dari paham yang dinamakan relisme kritis. Mulai dicoba mengadakan pembedaaan antara gejala-gejala yang tampak (seeming) dan wujud sebenarnya yang berada di balik gejala-gejala itu (being). Realitas tidak diterima sebagaimana apa adanya tetapi mulai dipertanyak-kan. Dunia hidup tidak semata-mata secara pragmatis, tetapi “diawasi” dalam observasi yang terkontrol. Tanggapan terhadap dunia atau lingkungan hidup dilakukan berdasarkan analisa dengan bantuan konsep-konsep formal yang teruji dan terus menerus.

Estetika
Estetik menunjuk suatu kecendrungan yang khas. Kalau dalam “common sense” jarak antara penampakan gejala-gejala tidak dilihat, kalau dalam ilmu pengetahuan jarak itu dipertegas dan diawasi, maka dalam estetika jarak itu diabaikan sama sekali. Wujud yang sebenarnya dari gejala-gejala menjadi tidak penting, karena estetika sebetulnya sudah merasa cukup puas dengan kualitas penampakan-penampakan itu. Perjumpaan seseorang dengan penampakan-penampakan itu justru diintensifkan agar supaya yang bersangkutan dapat terserap secara total ke dalamnya. Realitas tidak dipertanyakan melainkan diterima atau ditolak, dianggap penting atau diabaikan. Kalau ilmu dipertaruhkan dalam observasi kritis tentang gejala-gejala empiris, maka estetika dipertaruhkan dalam kontemplasi intensif tentang aktualitas-aktualitas sensoris.

Agama
Agama ditinjau secara khusus di sini dari ketiga bidang di atas. Kalau dalam “common sense” orang sudah puas dengan kenyataan sehari-hari (every day-life realities), maka dalam agama orang akan mencari realitas yang lebih benar dan bahkan terakhir, yang dapat menjadi ukuran untuk kenyataan hidup sehari-hari. Tanggapan terhadap dunia tidak dilakukan secara pragmatis, melainkan dilakukan berdasarkan persepsinya mengenai kenyataan terakhir (ultimate realities).
Agama berbeda dari ilmu pengetahuan justru dalam sikap keduanya teradap kenyataan sehari-hari tersebut. Kalau ilmu mempertanyakan berdasarkan kebenaran-kebenaran kategoris dan bekerja atas dasar analisis yang dilakukan dalam jarak (detacement), maka agama justru menghimbau penganutnya untuk berjumpa/berhadapan dengan kenyataan-kenyataan terakhir dan melakukan komitment terhadapnya.
Agama berbeda dari estetika dalam definitisinya mengenai kenyataan-kenyataan terakhir. Kalau dalam estetika seseorang merasa cukup menerimanya sebagai gejala/penampakan, maka dalam agama seseorang dituntut untuk memenrimanya sebagai fakta, sebagai realitas, “sebagai really real”.

Pentingnya Sistem Makna
Ada berbagai tingkatan pandangan dunia/sistem makna tersebut akan memungkinkan bahwa seseorang yang kehilangan sistem makna pada lapis yang satu masih dapat diselamatkan pada lapis lainnya. Dengan demikian maka seseorang yang kahilangan sistem makna dalam agama, masih dapat memperoleh pegangan dalam ilmu pengetahuan, sedangkan seseorang yang kehilangan pegang-an dalam ilmu pengetahuan, masih dapat mengandalkan pegangannya dalam dunia seni.
Batas terakhir yang tidak bisa dilanggar untuk tetap memertahankan suatu kehidupan yang normal adalah “common sense”. Seseorang bisa saja tak acuh secara religius, tidak terlatih secara ilmiah, tidak peka secara estetis, tetapi dia tak bisa hidup tanpa “common sense” sama sekali.

Kekacauan Dunia
Suatu sistem makna, suatu pandangan dunia adalah kebutuhan dasar kebudayaan, karena tanpa itu dunia akan tampak sebagai suatu khaos, yang bukan saja tanpa arti, tetapi tak mungkin diberi arti.
Ada tiga titik di mana khaos dapat menelusup masuk ke dalam hidup manusia, yaitu titik analitis, di mana kemampuan seseorang untuk memahami dan menjelaskan sesuatu berakhir, titik emosional di mana kemampuan seseorang untuk menahan sesuatu berakhir, dan titik moral di mana di mana pengertian moral seseorang mencapai batasnya.
Khaos pada tingkat analitik menghasilkan kebingungan, khaos pada tingkat emosional menghasilkan penderitaan, dan khaos pada tingkat moral menimbulkan semacam rasa pertentangan/paradok moral.

Agama dan Budaya
Salah satu pokok perdebatan di antara ahli-ahli ilmu sosial adalah manakah dari keempat tingkat pandangan hidup itu yang paling menetukan kehidupan manusia khususnya pada orang-orang yang belum terpengaruh oleh kebudayaan ilmu dan tekhnologi?
Levy-Bruhl misalnya membela pendapat bahwa pandangan dasar manusia sebetulnya bersifat religious. Orang-orang atau suku-suku yang masih hidup dalam kebudayaan asli pada dasarnya selalu berada dalam pertemuan dan pengalaman mistik. Pandangan dunia yang dasar selalu ditentukan oleh konteks religious.            
Malinowski, berpendapat, pandangan dunia yang terpenting adalah “common sense’. Manusia pada dasarnya hidup dalam pragmatis, dengan tindakan dan kegiatan-kegiatan yang bersifat praktis. Tingkah laku manusia lebih banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh “everyday-life reality” dan bukan “ultimate reality”.
Clifford Gertz,  dengan menyetujui pendapat Alfred Scutz, nampaknya ter-pesona oleh dunia “common sense”, yang bagi Schutz selalu merupakan the paramount reality. Ini berarti suatu penyelidikan terhadap suatu sistem budaya mau tak mau harus mulai dengan penyelidikan dengan dunia “common sense” sekelompok orang, karena di situlah terlihat tanggapan dan pengertian mereka sehari-hari mengenai dunia hidupnya, yaitu tanggapan yang langsung mempengaruhi tingkah laku mereka sebelum mereka tersentuh oleh agama, ideologi atau ilmu pengetahuan.

Faktor Penentu dalam Pandangan Dunia
Kalau wahyu adalah faktor yang menetukan dalam agama, metode adalah faktor yang menetukan dalam ilmu pengetahuan, “moral passion” adalah faktor yang menen-tukan dalam ideologi ---maka hal yang menjadi unsur konstitutif ‘common sense” adalah “the mere matter-of-fact apprehensif of reality”, yang memang dimungkinkan oleh beberapa sifatnya yang khas.
Dengan demikian, kalau dalam ilmu kita berurusan dengan kebenaran hipotetis, kalau dalam agama kita berurusan dengan kebenaran kategoris, kalau dalam seni kita berurusan dengan keindahaan, kalau dalam “common sense” kita berurusan dengan kebenaran ad hoc dan pragmatis, maka dalam ideologi kita berurusan dengan keterlibatan, semangat, keberpihakan dan “moral passion”.

Konsep Rasa
Rasa pada orang Jawa diterjemahkan menjadi sense (gerak), taste (selera), feeling (emosional), meaning (politik).
Rasa bagi orang Jawa adalah ringkasan paham kosmologis, seperangkat kepercayaan agama, suatu tanggapan terhadap hubungan-hubungan sosial dan semacam ‘komentar” tentang peristiwa-peristiwa psikologis. Rasa menekankan aspek koginitif orang Jawa menunjuk kepada padangan dunia orang Jawa.  Rasa menekankan aspek evaluatif menunjuk etos orang Jawa Yang dikomunikasikan melalui sistem simbol-simbol

Pandangan Dunia Orang Jawa
Dalam pandangan dunia orang Jawa Tuhan terdapat di dalam kedalaman batin dan hanya bisa tercapai sebagai rasa yang murni melalui disiplin-disiplin rohani. kebijakan hidup terletak dalam sikap “kebebasan jiwa” yang tidak terpengaruh lagi oleh kegembiraan atau frustasi. Gejolak batin diatur melalui teori-teori spekulatif tentang emosi.
Pada segi evaluatif, etos orang Jawa maka yang terlihat adalah tuntutan untuk menekankan tingkah laku yang sopan, halus dan teratur. Kebahagiaan atau kesedihan tidak banyak bedanya, karena seseorang dituntut melampaui gejolak perasaan dan bertahan dalam suatu ketenangan yang mantap atau kemantapan yang tenang. Persepsi-persepsi batin yang diuji melalui analisa empiris yang cermat. 

|
0

AGAMA DAN KEBUDAYAAN: SIMBOL DAN SISTEM SIMBOL

Posted by zulfailadiena.blogspot.com on 23.56 in ,
Oleh: Tasman, M.Si.

Agama, Simbol dan Sistem Simbol
Pengertian Agama menurut Clifford Geertz:(1) Sebuah sistem simbol-simbol yang berlaku untuk (2) menetapkan suasana hati dan motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan (3) merumuskan konsep-konsep mengenai tatanan umum eksistensi dan (4) membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga (5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak realitas.

Susunan Pengetian Agama
Jika diurai satu persatu,maka dapat disusun pengertian agama sebagai berikut:
(1) Pandangan dunia (sistem makna) berupa konsepsi tentang tertib alam dan kehidupan; (2) disposisi mental (sistem nilai) berupa suasana dan motivasi yang kuat, mendalam dan bertahan lama; (3) unsur “ritus” yang melebur dunia nyata dan dunia imajinatif menjadi satu, dengan cara menimbulkan kesan faktual tentang konsep-konsep tersebut, sehingga suasana dan motivasi yang timbul daripadanya terasa realistis; (4) suatu sistem simbol yang menghubungkan dan mengkomunikasikan semua unsur tersebut.

Paham Mengenai Agama
1.      Agama sebagai tindakan ritus:
      Adalah tindakan yang mempersatukan dunia nyata  dan dunia imajinatif dalam bentuk-bentuk simbolik. Tindakan keagamaan terjadi kalau sistem simbolik tersebut diresapi dengan suatu kekuatan dan kewibawaan yang luar biasa. Maka oleh karena itu wujud kekuatan dalam agama berbeda-beda: Dalam agama suku (tribal religion) kekuatan-kekuatan tersebut berasal dari kiasan-kiasan yang dipelihara dalam tradisi. Dalam agama mistik kekuatan-kekuatan tersebut diberikan oleh pengalaman-pengalaman supersensoris. Dalam agama kharismatis kewibawaan yang luar biasa itu dari suatu pribadi yang luar biasa.


2.      Agama sebagai tindakan simbolik:
Yakni rumusan-rumusan simbolik tentang aktualitas terjauh baik dalam artikulasi yang sangat sistematis ataupun dalam gambaran-gambaran fragmentaris yang terputus satu sama lain. Pada tahap ini setiap agama berfungsi sebagai suatu konsepsi umum, menyeluruh dan jelas tentang dunia dan susunan alam dan dapat dipandang sebagai “model tentang (mode of), sebagai manipulasi struktur-struktur simbolik agar menjadi sesuai dengan struktur-struktur non-simbolik yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian pandangan-pandangan harus disusun dan dimanipulasi agar supaya “sesuai” dan dapat menerangkan dunia di mana seseorang hidup.
Agama juga menjadi model untuk (mode for) sebagai suatu tindakan simbolik agama juga berfungsi sebagai seperangkat disposisi mental yang mendalam, yaitu manipulasi stuktur-struktur simbolik agar sesuai dengan keadaan suatu sistem simbolik. Dalam hal ini agama memberikan suatu model, suatu pola, yang menurut pola tersebut para penganut suatu agama harus membentuk hidupnya, dan menyesuaikan tingkah laku mereka.
Sebagai contoh pandawa lima dalam wayang  Jawa; bahwa pandawa lima merupakan lambang tentang (mode of) ke lima indra yang ada pada manusia, yang harus dipersatukan menjadi satu kebulatan psikologis dan kebijaksanaan. Di satu sisi pandawa lima pun berfungsi sebagai model untuk (model for), karena tokoh-tokohnya melambangkan watak-watak tertentu yang harus dicapai seseorang dalam hidupnya, atau harus dihindari dan diawasinya. Seperti arjuna adalah lambang keadilan, yang selalu berjuang melindungi orang orang yang menderita ketidakadilan. Namun demikian, rasa keadilannya membuat Arjuna dapat bertindak keras dan kasar terhadap orang-orang yang dianggapnya melakuan kejahatan.
Oleh karena itu, bahwa sebuah sifat baik manusia--apabila tidak diawasi--dapat membawa berbagai akibat negatif. Dengan demikian moralitas tidak terletak pada masing-masing kebajikan satu persatu, melainkan dalam persatuan semua sifat-sifat tersebut yang saling melengkapi dan saling mengontrol seperti halnya Pandawa Lima.

Rasa

Rasa Tuhan: merupakan kedalaman batin yang hanya bisa dicapai melalui disiplin rohani.  Kebijaksanaan hidup terletak dalam sikap “kebebasan jiwa” yang tidak terpengaruh lagi oleh kegembiraan dan frustasi, gejolak bathin diatur melalui teori-teori spekulatif tentang emosi.***

|

Copyright © 2009 ILADIENA ZULFA All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.